Beranda News Pengamat: Semua Pihak di Pilpres Harus Mampu Bertindak Negarawan

Pengamat: Semua Pihak di Pilpres Harus Mampu Bertindak Negarawan

94
0
Veri Muhlis (Foto: dok. Konsepindo)
Veri Muhlis (Foto: dok. Konsepindo)

Jakarta РPengamat politik Veri Muhlis Arifuzzaman optimistis menanggapi situasi terkini pasca pemungutan suara dan pengumuman hasil quick count berbagai lembaga survei. Menurutnya, reaksi kedua kubu sama-sama kecewa dengan hasil quick count yang telah diumumkan.

“Kubu Jokowi pasti kecewa karena walaupun dinyatakan unggul, tetapi tidak sampai di angka 60 persen. Sementara, kubu Prabowo pasti kecewa karena raihan suaranya menurut quick count tidak sampai 50 persen,” ujar Veri dalam keterangannya, Jumat (19/4/2019).

Veri menilai reaksi emosi sesaat bisa dipahami, namun jika terus dipelihara dan bahkan diorganisir agar menjadi kekuatan pendesak, pasti akan menjadi tidak sehat.

“Semua pihak seharusnya mampu meredam potensi konflik dan bertindak sebagai negarawan. Kepentingan negara harus berada di atas kepentingan pribadi dan golongan. Pilpres adalah agenda negara lima tahunan dan selama ini negara sudah berpengalaman melaksanakannya dengan aman, damai, dan melahirkan pemimpinan yang sah,” katanya.

Menurut Veri, quick count yang sudah diumumkan oleh berbagai lembaga survei hanya alat untuk mengetahui dengan cepat hasil pemil. Quick count, disebut Veri, adalah cara ilmiah dan penemuan besar dalam bidang riset sosial.

“Kita bisa memprediksi hasil populasi jauh sebelum selesai dihitung. Quick count juga bukan hal baru, dari pilpres ke pilpres dan pilkada sudah dipakai. Sekali lagi, (quick count) sebagai alat untuk mengetahui dengan cepat, jadi bukan hasil resmi sifatnya,” jelasnya.

Veri yang juga Direktur Utama Lembaga Survei Konsep Indonesia itu mengimbau semua pihak untuk menunggu penghitungan resmi dari KPU. Ia juga meminta semua pihak untuk berdamai dan menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Soal satu kubu mengklaim menang, silakan buktikan kepada publik, memakai cara apa dan bagaimana. Kalau ada quick count sendiri, silakan dibuka datanya, kalau juga atas dasar real count, hal yang sama berlaku. Sementara, jika yang lain mendeklarasikan kemenangan atas hasil quick count, sah-sah saja dilakukan, itu sudah menjadi tradisi juga pasca pemilu digelar. Beberapa partai sudah mengakui hasil quick count, yang metode dan pelaksana di lapangannya sama,” tutur Veri.

“Ini saatnya semua pihak berdamai. Beda pilihan dalam konteks demokrasi akan membawa persatuan yang baru, yang lebih indah. Semua harus berpikir soal persatuan, menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok,” pungkasnya.
(azr/nvl)

Sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here