Beranda Kesehatan Tangani Autis dengan Terapi Dini Terpadu dan Intensif

Tangani Autis dengan Terapi Dini Terpadu dan Intensif

5776
0
Tangani Autis dengan Terapi Dini Terpadu dan Intensif - Andrew Hidayat (AndrewHidayat.com)
Tangani Autis dengan Terapi Dini Terpadu dan Intensif - Andrew Hidayat (AndrewHidayat.com)

ZEROidTangani Autis dengan Terapi Dini Terpadu dan Intensif. Istilah autism pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner, Psikolog dari Univ. John Hopkins pada tahun 1943. “Autisme merupakan suatu kumpulan sindrom akibat kerusakan saraf dan hal ini mengganggu perkembangan anak. Untuk mendiagnosisnya WHO merumuskan dan dipakai di seluruh dunia dengan ICD-10 (international classification of diseases). Rumusan diagnosis lainnya yang dapat dipakai menjadi panduan adalah DSM-IV (diagnostic and statistical manual) 1994 yang dibuat oleh grup psikiatri Amerika serikat,” ungkap Agus Binti Kh, Psi, CH. CHt. M.NLP. Psikolog.

Mengenai penyebab autis, perempuan yang akrab disapa Bunda Agus ini mengatakan ada beberapa pendapat. Kanner memperkirakan penyebab autism adalah gangguan metabolism bawaan sedangkan pendekatan Psikologi Freudian menyatakan anak menjadi autis karena orangtuanya terutama ibu bersikap dingin dan tak peduli.  Namun, tahun 1964 pandangan ini hilang karena Rimland membuktikan penyebab autis adalah kerusakan neurologis.

Secara umum gejala autis terlihat dari perkembangan yang terhambat terutama dalam kontak sosial (bermain sendiri/tidak mau berkumpul dengan orang lain, acuh, tidak ada kontak mata, mengerjakan sesuatu yang rutin dan tantrum atau marah jika dilarang).

“Untuk mengetahui anak mengalami gangguan perkembangan autis sejak dini bisa dideteksi minimal dua gejala yaitu anak mengalami gangguan kualitatif dalam berinteraksi, berkomunikasi, tidak mampu menjalin interaksi sosial, tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, kurangnya hubungan sosial dan emosional timbal balik. Dalam berkomunikasi anak mengalami keterlambatan, jika bisa bicara, bicaranya tidak nyambung atau bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi, sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang. Cara bermain kurang variatif dan imajinatif serta kurang bisa meniru,” papar Bunda Agus.

Penanganan Autis Pada Anak

Autis ini dapat ditanggulangi dengan terapi dini, terpadu, dan intensif. Gejala autis dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga anak bisa bergaul secara normal, tumbuh sebagai anak yang sehat berkarya dan kelak jika dewasa bisa membina keluarga. Jika anak autis tidak atau terlambat mendapat interensi hingga dewasa maka gejala autis bisa menjadi semakin parah bahkan tidak tertanggulangi.

Anak autis akan mengalami kemajuan seperti anak normal yang lain jika konsisten dalam  melakukan treatment. Keberhasilan terapi tergantung berat ringannya gejala/gangguan dalam sel otak, makin awal diketahui semakin baik dan usia ideal terapi 2-5 tahun sebab sel otak masih sangat bisa dirangsang dan membentuk cabang neuron baru, makin cerdas makin cepat menangkap hal-hal yang diajarkan, intensitas terapi harus dilakukan sangat intensif sebaiknya terapi formal dilakukan 4-8 jam sehari dan semua saling mendukung.

“Jenis terapi untuk anak autis ada terapi medikamentosa, terapi biomedis, terapi wicara, terapi perilaku dan terapi okupasi serta pendidikan khusus. Sebaiknya sebelum terapi setiap anak dievaluasi oleh dokter dan psikolog. Yang terpenting adalah memastikan diagnosa secara tepat sekaligus mengetahui ada tidaknya gangguan lain.

Pilihlah dokter yang kompeten umumnya adalah dokter anak yang menangani autism, dokter saraf anak dan dokter rehabilitasi medik untuk tata laksana dilanjutkan ke psikolog,” jelas psikolog berhijab ini. (Andrew Hidayat/ZEROid)

Penulis: Andrew Hidayat 
Instagram Andrew Hidayat
Pinterest Andrew Hidayat
Twitter Andrew Hidayat

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here